Kerajinan Cukli

Cukli adalah kerajinan yang terbuat dari kayu dan kulit kerang mutiara. Bentuknya bermacam ragam, dari alat-alat rumah tangga, meja, kursi, bufet, bingkai foto, cermin, kotak haji, hingga hiasan dinding. Kulit kerang mutiara--yang ditempelkan di kayu--itulah yang menjadi ciri utama cukli. Jika sudah berbentuk produk jadi, kulit kerang mutiara terlihat bersinar, apalagi bila dibalut dengan pernis atau pelitur. Kerajinan cukli muncul pada awal 1980-an, ketika budidaya mutiara marak di Nusa Tenggara Barat. Ketika itu para perajin mutiara hanya mengambil isinya. Sementara itu, kulit kerangnya yang berwarna putih berbalut ungu dibuang sia-sia di tempat sampah. Onggokan sampah kerang mutiara itu membuat H Zuhdi prihatin hingga kemudian ide kreatifnya muncul. Warga Desa Rungkang Jangkuk, Mataram, ini pun memunguti sampah-sampah kulit kerang mutiara dan dikumpulkan di rumahnya. Istri dan anak-anaknya ketika itu heran dengan perilaku Zuhdi. Untuk apa sampah kulit kerang mutiara itu? Belakangan, Zuhdi memecah kulit kerang mutiara hingga sebesar kuku jari kelingking. Pecahan itu lalu ditempelkan di peralatan rumah tangga dan hiasan dinding yang dibuatnya. Satu bufet, misalnya, ditempeli kulit kerang mutiara secara melintang, vertikal, dan horizontal dibentuk hiasan, seperti motif bunga, bintang, atau gambar bulan bintang. Belakangan motifnya terus berkembang. Pengalaman Zuhdi menjadi tukang kayu di Bali selama enam tahun menambah kreasi kerajinannya. Desain cukli cukup unik, dikembangkan dari seni Lombok dan Bali yang gayanya tak jauh berbeda. Ide dasarnya, bagaimana produk rumah tangga dan kerajinan dari kayu didesain agar terlihat gemerlap. Usaha kerajinan yang dirintis Zuhdi sejak 1981 terus berkembang. Setelah Zuhdi meninggal, usahanya diteruskan oleh H Murad, seorang menantunya, hingga sekarang. Melihat kemajuan usaha Zuhdi, ratusan tetangganya, yang tukang kayu, mulai meniru. Sejak 1990-an, kampung Rungkang Jangkuk, Kelurahan Sayangsayang, Mataram, mulai dikenal sebagai pusat kerajinan Lombok. Pada 1993, Zuhdi pun mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto. Selain Rungkang Jangkuk, perajin cukli sekarang juga tersebar di Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Di dua tempat itu terdapat sedikitnya 450 perajin cukli. Produk kerajinan cukli tak hanya dibeli masyarakat Mataram, tapi telah dilirik para pengusaha di Bali, Surabaya, dan Jakarta. Kerajinan cukli menjadi bahan promosi gratis bagi wisatawan asing yang datang ke Bali. Suatu hari seorang pengusaha asal Pulau Dewata datang ke Rungkang Jangkuk bersama seorang wisatawan asing. Hasil pertemuan itu, Zuhdi diminta mengekspor kerajinan cukli ke sejumlah negara di Eropa. Dari sanalah, kerajinan ini mulai dikenal di mancanegara. Permintaan ekspor terus meningkat, hingga perajin di Rungkang Jangkuk kecipratan rezeki. Mereka membuat kerajinan cukli untuk diekspor dengan cara berkelompok. Jenis produk dan harga kerajinan cukli sekarang bervariasi. Untuk sofa dan buffet, yang telah dibalut pelbagai hiasan kulit kerang mutiara, harganya Rp 2-2,5 juta, sedangkan satu set meja kursi tamu harganya mencapai Rp 6 juta. Harga bingkai cermin Rp 100-300 ribu, tergantung besar dan kecilnya barang. Kini dengan banyaknya perajin cukli di Mataram dan Lombok Barat, muncul berbagai persoalan. Bahan baku mulai sulit, terutama kulit kerang mutiara. "Bahan baku ini dahulu hanya sampah. Tapi begitu ada manfaatnya, kini sulit didapat dan harganya cukup mahal," tutur Murad. Soal pengiriman juga menjadi kendala, terutama untuk ekspor. Nusa Tenggara Barat belum memiliki pelabuhan untuk pengiriman barang ekspor sehingga harus lewat Bali dan Surabaya. "Dampaknya jelas, cost-nya jadi membengkak," ujar Moenir Oesman, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Nusa Tenggara Barat. Padahal cukli telah diekspor ke 26 negara. Pada 2004, nilai ekspor cukli mencapai US$ 65.690. Tak hanya itu. Tak jarang cukli diklaim sebagai produk dari Bali, Surabaya, atau Yogyakarta. Karena itu, para perajin meminta agar produk asli Lombok itu dipatenkan.